Guru yang akan mengajar pada waktu itu tidak bisa hadir
karna halangan tertentu. Setidaknya itu yang kami ketahui. “eh, didepan ada
guru piket gak?” bisik teman sebangku. “gak tau, tadi mah sih gak ada” ya,
memang sedang tidak ada. Biasanya guru piket selalu siap didepan kelas kami
yang kebetulan bersebelahan dengan kantor guru. Untuk memastikan tidak ada
santri yang keluar kelas tanpa alasan yang jelas. Beberapa teman mulai
melongokkan kepalanya kejedela untuk memastikan. “iya, bener ukh, gak ada.”
Satu persatu teman-temanku mulai meninggalkan kelas. Matahari memang sangat
panas dan jam pelajaran siang seperti ini cocok untuk sekedar merebah di
asrama. Aku memilih tetap di kelas, membaca beberapa lembar buku atau sekedar
membuat coretan-coretan gambar. Alasan kuatnya mengapa aku tidak mengikuti
teman-teman yang lainnya, karna takut kepergok melanggar. Ya, masuk asrama
ketika kegiatan belajar mengajar memang tidak boleh (kecualni ada kepentingan
yang mendesak).
Aku tidak sendirian dikelas ada 2 teman yang lainnya. Ketika kami sedang
larut dalam kegiatan masing-masing, guru piket datang. Melihat hampir semua
santri tidak ada dikelas, mimik mukanya menjadi dingin. “Pada kemana yang
lain?” suaranya tidak terlalu keras, namun kami tahu, beliau marah. “gak tahu,
ustadzah.” Ucap salah satu temanku dengan nada gugup. “KEMANA YANG LAIN,
BUKANNYA KALIAN BELAJAR.! KEMANA, HAH??
KEMANA?”. Suaranya lebih tinggi dari yang tadi. Matanya menatap kami satu
persatu, namun kami hanya tertunduk diam. Rasanya tak sanggup mengatakan bahwa
teman yang lainnya pergi ke asrama, karna pasti mereka akan dihukm dan kami
benar-benar tidak tegak melihatnya. Karna melihat kami tetap diam beliau pergi
menuju asrama.
“ukh, hahahaha,,,,,” tiba-tiba datang salah satu teman
dari asrama, dengan rasa takut tapi juga merasa lucu dengan apa yang
dilakukannya. “eh, ente kenapa?” “ada ustadzah ya, keasrama?” “gimana
ceritanya?” kami menghujaninya dengan pertanyaan yang juga diiringi tawa
membayangkan mereka lari terbirit-birit dengan memakai kerudung yang kurang
rapih atau bersembunyi di baik pintu agar selamat dari kepergok :D
“tadi ada ustadzah dateng ke asrama kita. Ngetuk pintu,
kita kira, kalian yang ngetuk pintu. Soalnya di asrama yang gak ada
itu cuma kalian”
“terus-terus, gimana?” timpalku.
“ustadzah langsung masuk, emang gak kita kunci kamarnya.
Udah gitu, karna ngedenger pintu dibuka,
ada yang teriak ‘aqfil al baab..!’ soalnya takut gak ditutup lagi
pintunya. Pas kita liat ternyata ustadzah yang masuk. Hahahahaha.” Kamipun
tertawa mendengarnya.
Tidak lama setelah itu. Teman-temanku mendapatkan
hukuman. Semua berbaris didepan masjid. Aku dan teman-teman yang tidak
meninggalkan kelas merasa aman, namun....
“kalian juga dijemur”. Ustadzah mendatangi kelas. Kami
hanya bisa saling berpandangan tak percaya, apa salah kita ustadzah?
Tapi tetap menurut dengan kaki yang ragu melangkah. Ok, satu kelas dijemur.
Padahal kan aku tidak melakukan kesalahan. Hemmm, baiklah aku harus kompak, ya,
kita harus kompak teman-teman. seperti itulah batinku. :D
Matahari memang sedang berpihak dengan ustadzah yang
menghukum kami, panas. Keringat mulai bercucur.
“kalian tahu, apa kesalahan kalian?” ucapannya masih
dingin, tapi tak mampu mendinginkan kami yang kepanasan. Kami hanya diam.
beliaupun menjelaskan kembali aturan yang berlaku dan apa yang harus kami
lakukan sebagai kakak bagi adik kelasnya. Yaitu memberikan contoh yang baik.
“kalian yang tadi
di kelas, kalian tahu, apa kesalahan kalian? Kalian tidak mengingatkan yang
lainnya untuk tidak masuk ke asrama, dan kalian menutupi kalau teman kalian
berbuat salah.”
ya, ketika teman berbuat salah seharusnya memang kita
mengingatkan. Tidak hanya ingin merasa aman sendiri dari berbuat kesalahan.
Karna tanpa di sadari, sebenarnya justru kita juga sedang berbuat salah ketika
tidak mengingatkan yang berbuat salah.
